Senin, 19 April 2021

Konsep Pengalaman Keagamaan

A. Memahami Pengalaman Keagamaan

                  Berbicara tentang pengalaman keagamaan, tentu saja sangat terkait dengan manusia yang nota  bene adalah pelaku atau pelaksana dari ajaran atau doktrin  dari sebuah agama. Hal ini berarti pengalaman keagamaan hanya akan diperoleh oleh manusia yang melaksanakan ajaran agamanya, tanpa itu (pelaksanaan ajaran agama), maka seseorang akan sangat sulit untuk memahami dan memperoleh pengalaman kegamaan. Beragama disini tidak hanya berarti pengakuan secara lisan saja, tetapi lebih dari itu dan lebih penting adalah bagaimana penghayatan dari pelaksanaan secara konsisten yang ia lakukan.             

  Agama sebagai jalan punggung manusia untuk mencapai keyakinan  yang supranatural. Sedangkan keagamaan itu sendiri, perilaku dan pengalaman yang di hasilkan oleh  manusia setelah menemukan agama. Salah satu yang ada dalam agama adalah pengalaman keagamaan, di mana setiap manusia yang beragama sudah barang tentu akan dan pernah mengalami pengalaman keagamaan tersebut. Pengalaman adalah universal. Para ahli antropologi, seperti Marett dan Malinowski, telah membuktikan bahwa, jauh dari sesuatu yang sifatnya diinduksikan dengan cara di buat-buat (diciptakan, sebagaimana yang diyakini pada masa pencerahan), agama adalah merupakan ungkapan dari perasaan ketuhanan (sensus numinis, istilah Otto yang sekarang terkenal) yang terdapat di mana-mana. Henri Bergson mengemukakan: “tidak pernah ada suatu masyarakat yang  tanpa agama; dan Raymond Firth menegaskan bahwa “ agama adalah sesuatu yang universal dalam masyarakat manusia.[1]

Pengalaman keagamaan didefinisikan sebagai pencarian Realitas Asli. Dalam pencarian ini tampaknya agama-agama sering terdorong untuk menegaskan dirinya sebagai yang unik dan universal. Banyak agama yang memperlihatkan kecendrungan untuk menawarkan sebagai jalan yang benar menuju keselamatan atau pembebasan.[2]

Salah satu karakteristik yang universal dari pengalaman keagamaan adalah cendrung untuk mengungkapkan diri. Tetapi, bentuk ungkapan dan hubungan antara bentuk ungkapan tersebut dengan pengalaman, sangat beraneka ragam sesuai dengan ragam kebudayaan, sosial agama yang ada. Unngkapan pengalaman keagamaan akan terlihatdalam tingkah laku (baik berupa pemujaan ataupun dalam pelayanan) dan ungkapan-ungkapan bidang inntelektual atau ungkapan pengalaman keagamaan ada tiga, yaitu; bentuk pemikiran atau intelektual (teoritis), bentuk perbuatan atau peraktis dan bentuk persekutuan atau kelompok keagamaan.[3] 


B. Ungkapan Pengalaman Keagamaan

Dibawah ini akan saya paparkan bentuk ungkapan pengalaman keagamaan.

1) Ungkapan Pengalaman Keagamaan dalam Bentuk Pemikiran Ungkapan keagamaan yang diungkapkan dalam bentuk pemikiran atau secara intelektual (teroritis), bisa bersifat sepontan, belum mantap atau baku dan tradisonal.[4]

2) Ungkapan Pengalaman Keagamaan Dalam Bentuk Perbuatan

Ungkapan pengalaman keagamaan yang nyata dalam bentuk perbuatan (praktis), yaitu adalah pemujaan (kultus), yang merupakan suatu tanggapan total atas wujud yang mendalam terhadap Realitas Mutlak . perbuatan keagamaan itu terjadi ruang dan waktu dalam suatu konteks yang beraneka ragam. Ada dua bentuk utama dalam ungkapan pengalaman keagamaan yang nyata (praktis), yaitu bakti atau peribadatan dan pelayanan, yang saling mempengaruhi.[5]

3)      Ungkapan Pengalaman Keagamaan Dalam Bentuk Persekutuan-Persekutuan atau biasanya seperti Kelompok keagamaan, terbentuk dalam dan melalui perbuatan keagamaan. setiap agama mengembangkan suatu bentuk persekutuan keagamaan. Cara yang digunakan oleh anggota kelompok keagamaan dalam menghayati Tuhan, membayangkan dan berhubungan dengannya mengalami persekutuaan membayangkan dan mempraktekkannya, menentukan hakekat dan bentuk organisasi suatu 

kelompok keagamaan.

            Menurut Marett ”pada pokonya subyek yang memiliki pengalaman keagamaan adalah masyarakat agama, bukan perorangan, masyarakat agama harus sebagai penanggung jawab utama dari perasaan, pemikiran dan perbuatan-perbuatan membentuk agama.”.[6]

 

 

 



[1] Joachim Wach, Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta:Raja Grafindo Persada,1994), hlm. 56.

[2]  Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-agama,(Jakarta: Kansius, 1989), hlm. 5.

[3] Joachim Wach, Op.Cit, hlm. 97

[4] Ibid, hlm. 98

[5] Ibid, hlm 148-149

[6]Zakiah Darajat, Perbandingan Agama, (Jakarta:Bumi Aksara,1991), hlm. 186.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Konsep Pengalaman Keagamaan

A. Memahami Pengalaman Keagamaan                     Berbicara tentang pengalaman keagamaan, tentu saja sangat terkait dengan...